KOTA LIMA DIMENSI: PALU AKAN MENJADI KOTA MODERN

Foto: ilustrasi keindahan alam kota Palu dengan pembangunan infrastruktur modern. By AI

SEROONEWS.COM – Pasca bencana 2018 banyak area yang telah direvitalisasi, termasuk pembangunan jembatan-jembatan baru dan perbaikan akses jalan. Kota ini dikelilingi oleh pegunungan hijau yang kontras dengan biru laut Teluk Palu, sehingganya memberikan pemandangan estetis terutama saat matahari terbenam.

Pada tahun 2026 ini, muncul pandangan subjektif dari sahabat Hadianto Rasyid. Seorang sastrawan politik kota Palu, Yahdi Basma, S.H., menerangkan bahwa merubah wajah Palu menuju kota modern bukanlah pandangan dari Hadianto. Bahkan bukan pula sikap dari pemerintah kota Palu. Jum’at, (10/4/26) sumber: media Whatsapp

Dalam pandangan subjektif tersebut, Hadianto Rasyid ternyata memiliki strategi layaknya seorang Grandmaster pada permainan catur. Langkah-langkahnya mampu membaca situasi dan posisi demi keunggulan jangka panjang.

Pada bagian opening, ia mendorong pion-pion pembangunan secara progresif dengan strategi jemput bola ke berbagai Kementerian atau Lembaga. Hal ini mempercepat pemulihan pasca bencana Palu pada tahun 2028. Langkah ini bukan hanya sekadar langkah, melainkan untuk mempercepat ritme agar kota Palu tidak lagi terjebak dalam permainan bertahan dengan tempo lama.

Pada bagian kedua yaitu dengan middle game, orkestrasi antar “buah catur.” Mengenai persoalan banjir temporal yang ditangani dengan menggunakan teknokratis melalui pembangunan drainase berbasis perencanaan matang.

Pada bagian ke tiga ada di sektor ekonomi, Hadiyanto memainkan combination play yang efektif. Sehingga dapat membangun puluhan titik wisata kuliner sebagai pusat pertumbuhan baru sekaligus menggelontorkan stimulasi permodalan UMKM hingga ratusan miliar rupiah.

Dalam logika catur, ini merupakan aktivasi “queen” yang dapat membuka banyak jalur serangan sekaligus untuk menghidupkan ekonomi rakyat. Tentunya selain untuk memperluas lapangan pekerjaan, hal ini akan memperkuat daya tahan ekonomi lokal yang ada di tengah tekanan eksternal.

Pada bagian ke empat adalah dengan strategic foresight, terjadi pada September 2024 pada saat launching Bus Trans Palu. Saat itu, keputusan untuk menggondong 24 unit bus dinilai terlalu berani.

Namun, dalam perspektif catur ini adalah langkah quit move. Artinya tidak langsung terlihat dampaknya, tetapi menentukan struktur permainan di bagian berikutnya.

Memasuki dinamika baru per 10 April 2026, dengan kebijakan kerja fleksibel (WFH/WHA) sebagai respons atas tekanan geopolitik global, langkah tersebut justru menjadi decisive advantage.

Kota Palu memetik buah dari strategi yang ditanam setahun lalu. Bus Trans Palu berfungsi sebagai “pelampung” ekonomi yang mampu menekan beban pengeluaran BBM warga, sehingga dapat menjaga mobilitas ASN dan masyarakat tetap efisien, serta menjadi buffer terhadap potensi penurunan daya beli.

Di saat yang sama, Hadianto juga menggerakkan lebih dari 11.000 ASN dan PPPK Kota Palu dalam satu orkestrasi disiplin kerja yang ketat.

Pada bagian selanjutnya ada terminologi catur, ini adalah piece coordination tingkat tinggi. Seluruh “buah” bekerja dalam satu ritme, tidak saling tumpang tindih dan tetap efektif meski pola kerja bergeser ke WFH/WHA. Produktivitas birokrasi dijaga, pelayanan publik tetap berjalan dan adaptasi terhadap kebijakan pusat dilakukan tanpa kehilangan kontrol permainan.

Lanjut, permainan memasuki bagian endgame.

Posisi Palu semakin solid, struktur kota lebih tertata, ekonomi rakyat bergerak dan sistem birokrasi semakin disiplin serta adaptif. Namun seperti dalam catur, checkmate bukan hasil satu langkah, melainkan akumulasi strategi yang presisi dan konsisten.

Penulis: Aliyul

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *